LiaRezaVahlefi

LiaRezaVahlefi

Menulis pelan, berpikir panjang...

Breaking

Senin, 09 Februari 2026

Menulis Lagi Setelah Lama Berhenti: Rasanya Seperti Pulang

Februari 09, 2026 0
Menulis Lagi Setelah Lama Berhenti: Rasanya Seperti Pulang

Ada jeda yang terasa seperti istirahat.
Ada pula jeda yang diam-diam berubah menjadi jarak.

Aku pernah berada di titik itu—berhenti menulis bukan karena tidak ingin, tapi karena hidup menuntut banyak hal sekaligus. Tubuh berubah, prioritas bergeser, dan waktu yang dulu terasa longgar mendadak menjadi sempit. Menulis, yang dulu menjadi ruang bernapas, perlahan tergeser oleh kewajiban yang tidak bisa ditunda.

Aku tidak benar-benar pergi.
Aku hanya meletakkan pena terlalu lama.

Dan ketika akhirnya kembali menulis, perasaan itu datang tanpa aba-aba: seperti pulang.


*****


Ketika Menulis Tidak Lagi Mudah

Ada masa di mana menulis terasa mengalir. Ide datang begitu saja, kata-kata berbaris tanpa perlu dipaksa. Tapi setelah lama berhenti, segalanya terasa canggung. Aku menatap layar kosong lebih lama dari biasanya. Jemari kaku, pikiran ragu.

“Masih bisakah aku menulis seperti dulu?”

Pertanyaan itu sering muncul, disertai rasa takut yang tidak perlu: takut tulisan tidak lagi relevan, takut suaraku berubah, takut tidak ada yang membaca. Padahal, yang berubah bukan kemampuanku—melainkan diriku.

Dan itu bukan hal buruk.

Menulis setelah lama berhenti memang tidak semudah memulai dari nol. Justru karena kita membawa beban pengalaman, luka, dan perubahan yang tidak ringan. Ada versi diri yang sudah kita tinggalkan, dan versi baru yang belum sepenuhnya kita kenali.


****


Menulis di Versi Diri yang Baru

Aku menyadari satu hal penting:
aku tidak harus menulis seperti dulu.

Hidup telah membentukku dengan cara yang berbeda. Pengalaman menjadi ibu, kelelahan yang tidak bisa dijelaskan, kebahagiaan kecil yang datang tanpa sorak—semua itu mengubah sudut pandangku. Dan tulisan pun ikut berubah.

Jika dulu aku menulis untuk didengar, kini aku menulis untuk memahami.
Jika dulu aku mengejar ritme cepat, kini aku menikmati jeda.

Menulis tidak lagi soal produktivitas semata, tapi soal kejujuran. Tentang mengakui bahwa aku pernah berhenti. Bahwa aku pernah lelah. Bahwa aku kembali bukan karena ambisi besar, melainkan kebutuhan batin yang pelan-pelan memanggil.


****


Rasanya Seperti Pulang

Ada perasaan hangat saat kata pertama akhirnya tertulis. Bukan euforia, tapi kelegaan. Seperti membuka pintu rumah lama yang masih mengenali langkah kita. Tidak ada tuntutan, tidak ada penghakiman.

Menulis menyambutku tanpa bertanya ke mana saja aku selama ini.

Di situlah aku sadar: menulis bukan sekadar kebiasaan, tapi tempat pulang. Tempat di mana aku bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu menjelaskan. Tempat di mana pikiranku yang berisik bisa duduk tenang, satu per satu.

Pulang tidak selalu berarti kembali ke kondisi semula. Kadang pulang berarti diterima apa adanya, dengan versi diri yang sudah berubah.


****


Tentang Rasa Bersalah yang Tidak Perlu

Banyak orang berhenti menulis karena satu hal: rasa bersalah.
Bersalah karena tidak konsisten. Bersalah karena meninggalkan pembaca. Bersalah karena merasa “seharusnya” tetap menulis.

Aku pernah merasakannya.

Namun, hidup bukan garis lurus. Ada fase bertumbuh yang memang menuntut kita untuk berhenti sejenak. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Menulis akan selalu menunggu—tidak pernah menuntut kita datang dalam kondisi sempurna.

Justru, tulisan yang lahir setelah jeda sering kali lebih jujur. Lebih dalam. Lebih manusiawi.


****


Menulis Pelan-Pelan, Tapi Bertahan

Kini aku menulis dengan cara yang berbeda. Tidak terburu-buru, tidak memaksa diri untuk selalu produktif. Aku memilih hadir, meski pelan. Satu artikel, satu cerita, satu refleksi.

Aku tidak lagi mengejar angka semata. Aku mengejar keberlanjutan.

Karena aku tahu, tulisan yang bertahan bukanlah yang paling sering muncul, tapi yang paling tulus. Dan Google—seperti pembaca manusia—perlahan mulai mengenali tulisan yang bernapas.

Menulis pelan bukan berarti kalah. Justru itu cara bertahan di dunia yang terlalu cepat.


****


Jika Kamu Juga Pernah Berhenti

Jika kamu membaca ini dan merasa relate—pernah menulis, lalu berhenti, lalu ragu untuk kembali—izinkan aku bilang satu hal:

Tidak ada kata terlambat.

Kamu tidak perlu menunggu ide besar. Tidak perlu menunggu waktu luang yang sempurna. Mulailah dari satu paragraf jujur. Dari satu pengalaman kecil. Dari satu perasaan yang belum sempat kamu tuliskan.

Menulis tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta kehadiran.


****

Penutup

Menulis lagi setelah lama berhenti bukan tentang membuktikan apa pun. Bukan tentang mengejar validasi atau penghasilan semata. Ia tentang keberanian untuk kembali pada diri sendiri.

Dan ketika aku kembali menulis hari ini, aku tahu:
aku tidak sedang memulai dari awal.
Aku hanya pulang, membawa versi diriku yang lebih utuh.



****


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Semoga ada bagian kecil yang menemani atau menguatkanmu hari ini❤️
By LiaRezaVahlefi