LiaRezaVahlefi

LiaRezaVahlefi

Menulis pelan, berpikir panjang...

Breaking

Selasa, 10 Februari 2026

Kenapa aku kembali menulis di 2026?

Februari 10, 2026 0
Kenapa aku kembali menulis di 2026?

Ada tahun-tahun di mana hidup berjalan begitu cepat, sampai kita lupa pada satu hal kecil yang dulu sangat berarti. Bagiku, hal itu adalah menulis.

Aku tidak pernah benar-benar berniat berhenti. Tidak ada keputusan dramatis, tidak ada pengumuman. Aku hanya perlahan menjauh. Hari demi hari terisi oleh hal-hal yang lebih mendesak: tubuh yang berubah, peran baru sebagai ibu, tanggung jawab yang tidak bisa ditunda. Menulis, yang dulu terasa penting, bergeser ke pinggir—bukan karena tidak dicintai, tapi karena hidup meminta prioritas lain.

Lalu tibalah 2026. Tahun yang tidak istimewa secara angka, tapi terasa berbeda di dalam dada. Tahun di mana aku bertanya pelan pada diri sendiri: apakah aku masih ingin menulis?

Jawabannya datang tanpa ragu.

****


Menulis Pernah Menjadi Rumah

Ada masa ketika menulis adalah tempat pulang. Setiap kata menjadi cara memahami diri, setiap paragraf menjadi ruang bernapas. Aku menulis untuk menyimpan cerita, untuk berdialog dengan diri sendiri, dan kadang—tanpa sadar—untuk menemani orang lain yang sedang merasa sama.

Ketika aku berhenti menulis, ada bagian diriku yang ikut terdiam. Bukan hilang, hanya menunggu. Dan seperti rumah lama yang ditinggalkan, menulis tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya menunggu pintunya dibuka kembali.

Di 2026 ini, aku membuka pintu itu.


****


Hidup Telah Mengubah Cara Pandangku

Alasan terbesarku kembali menulis bukan nostalgia. Aku tidak ingin menjadi versi diriku yang dulu. Justru sebaliknya—aku ingin menulis dari versi diriku yang sekarang.

Pengalaman menjadi ibu mengajarkanku tentang kesabaran, tentang kelelahan yang tidak selalu terlihat, dan tentang kebahagiaan kecil yang sering luput dari sorotan. Hidup tidak lagi hitam-putih. Ada banyak abu-abu yang indah, dan aku ingin menuliskannya.

Jika dulu aku menulis dengan ambisi, kini aku menulis dengan kesadaran. Jika dulu aku mengejar kecepatan, kini aku memilih kedalaman. Menulis tidak lagi tentang membuktikan diri, tapi tentang jujur pada apa yang kurasakan.


****


2026 Adalah Waktu yang Tepat

Kenapa sekarang? Kenapa tidak menunggu nanti?

Karena aku sadar satu hal: tidak ada waktu yang benar-benar sempurna. Jika aku terus menunggu kondisi ideal—waktu luang, energi penuh, ide besar—aku mungkin tidak akan pernah kembali.

2026 adalah waktu yang cukup baik. Tidak sempurna, tapi cukup. Dan “cukup” sering kali adalah titik terbaik untuk memulai.

Aku juga melihat perubahan besar dalam cara orang membaca dan mencari makna. Dunia digital semakin cepat, tapi justru di tengah kecepatan itu, banyak orang merindukan tulisan yang pelan. Tulisan yang tidak menggurui, tidak berteriak, tidak memaksa.

Aku ingin menjadi bagian kecil dari ruang itu.


****


Menulis Lagi, Pelan Tapi Konsisten

Aku tidak menetapkan target muluk. Aku tidak berjanji akan selalu produktif atau selalu sempurna. Yang kupilih hanyalah satu hal: hadir.

Satu artikel sehari, atau beberapa kali seminggu—selama itu jujur dan bernapas, itu sudah cukup. Konsistensi bagiku bukan lagi soal kuantitas, tapi keberlanjutan. Tentang kembali lagi dan lagi, meski pelan.

Aku percaya Google, seperti manusia, belajar mengenali niat. Tulisan yang dibuat dengan kesadaran dan pengalaman nyata akan menemukan jalannya sendiri. Bukan karena algoritma semata, tapi karena manusia di balik layar merasakannya.


****


Tentang Penghasilan dan Realita

Aku tidak menutup mata soal penghasilan. Blog pernah memberiku hasil nyata di masa lalu, dan aku tahu menulis bisa menjadi sumber pendapatan. Tapi kali ini, aku ingin menata ulang niatku.

Aku tidak menulis hanya untuk uang. Aku menulis agar uang bisa datang sebagai bonus dari konsistensi dan kualitas. Penghasilan yang lahir dari proses yang sehat akan terasa lebih bertahan.

AdSense bukan tujuan utama, tapi ia bisa menjadi teman perjalanan.


****


Kembali Tanpa Rasa Bersalah

Salah satu hal tersulit saat kembali menulis adalah melepaskan rasa bersalah. Bersalah karena pernah berhenti. Bersalah karena merasa tidak konsisten. Bersalah karena takut dianggap gagal.

Namun aku belajar menerima bahwa hidup bergerak dalam fase. Ada masa untuk tumbuh ke luar, ada masa untuk kembali ke dalam. Menulis akan selalu menunggu, tidak pernah menuntut.

Dan 2026 ini, aku datang tanpa meminta maaf pada masa lalu.


****


Untuk Kamu yang Membaca Ini

Jika kamu membaca tulisan ini dan merasa relate—pernah punya sesuatu yang kamu cintai, lalu meninggalkannya karena hidup—aku ingin bilang satu hal: kamu tidak sendirian.

Kembali tidak selalu berarti mengulang. Kadang kembali berarti melanjutkan dari titik yang lebih dewasa. Lebih jujur. Lebih sadar.

Tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi.


****


Penutup

Kenapa aku kembali menulis di 2026?
Karena aku sudah cukup jauh berlari, dan kini ingin berjalan.
Karena aku ingin mendengar suaraku sendiri lagi.
Karena menulis adalah caraku memahami hidup yang terus berubah.

Aku tidak memulai dari nol.
Aku hanya melanjutkan—dengan versi diriku yang lebih utuh.


****


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Semoga ada bagian kecil yang menemani atau menguatkanmu hari ini❤️
By LiaRezaVahlefi

Senin, 09 Februari 2026

Menulis Lagi Setelah Lama Berhenti: Rasanya Seperti Pulang

Februari 09, 2026 0
Menulis Lagi Setelah Lama Berhenti: Rasanya Seperti Pulang

Ada jeda yang terasa seperti istirahat.
Ada pula jeda yang diam-diam berubah menjadi jarak.

Aku pernah berada di titik itu—berhenti menulis bukan karena tidak ingin, tapi karena hidup menuntut banyak hal sekaligus. Tubuh berubah, prioritas bergeser, dan waktu yang dulu terasa longgar mendadak menjadi sempit. Menulis, yang dulu menjadi ruang bernapas, perlahan tergeser oleh kewajiban yang tidak bisa ditunda.

Aku tidak benar-benar pergi.
Aku hanya meletakkan pena terlalu lama.

Dan ketika akhirnya kembali menulis, perasaan itu datang tanpa aba-aba: seperti pulang.


*****


Ketika Menulis Tidak Lagi Mudah

Ada masa di mana menulis terasa mengalir. Ide datang begitu saja, kata-kata berbaris tanpa perlu dipaksa. Tapi setelah lama berhenti, segalanya terasa canggung. Aku menatap layar kosong lebih lama dari biasanya. Jemari kaku, pikiran ragu.

“Masih bisakah aku menulis seperti dulu?”

Pertanyaan itu sering muncul, disertai rasa takut yang tidak perlu: takut tulisan tidak lagi relevan, takut suaraku berubah, takut tidak ada yang membaca. Padahal, yang berubah bukan kemampuanku—melainkan diriku.

Dan itu bukan hal buruk.

Menulis setelah lama berhenti memang tidak semudah memulai dari nol. Justru karena kita membawa beban pengalaman, luka, dan perubahan yang tidak ringan. Ada versi diri yang sudah kita tinggalkan, dan versi baru yang belum sepenuhnya kita kenali.


****


Menulis di Versi Diri yang Baru

Aku menyadari satu hal penting:
aku tidak harus menulis seperti dulu.

Hidup telah membentukku dengan cara yang berbeda. Pengalaman menjadi ibu, kelelahan yang tidak bisa dijelaskan, kebahagiaan kecil yang datang tanpa sorak—semua itu mengubah sudut pandangku. Dan tulisan pun ikut berubah.

Jika dulu aku menulis untuk didengar, kini aku menulis untuk memahami.
Jika dulu aku mengejar ritme cepat, kini aku menikmati jeda.

Menulis tidak lagi soal produktivitas semata, tapi soal kejujuran. Tentang mengakui bahwa aku pernah berhenti. Bahwa aku pernah lelah. Bahwa aku kembali bukan karena ambisi besar, melainkan kebutuhan batin yang pelan-pelan memanggil.


****


Rasanya Seperti Pulang

Ada perasaan hangat saat kata pertama akhirnya tertulis. Bukan euforia, tapi kelegaan. Seperti membuka pintu rumah lama yang masih mengenali langkah kita. Tidak ada tuntutan, tidak ada penghakiman.

Menulis menyambutku tanpa bertanya ke mana saja aku selama ini.

Di situlah aku sadar: menulis bukan sekadar kebiasaan, tapi tempat pulang. Tempat di mana aku bisa menjadi diri sendiri tanpa perlu menjelaskan. Tempat di mana pikiranku yang berisik bisa duduk tenang, satu per satu.

Pulang tidak selalu berarti kembali ke kondisi semula. Kadang pulang berarti diterima apa adanya, dengan versi diri yang sudah berubah.


****


Tentang Rasa Bersalah yang Tidak Perlu

Banyak orang berhenti menulis karena satu hal: rasa bersalah.
Bersalah karena tidak konsisten. Bersalah karena meninggalkan pembaca. Bersalah karena merasa “seharusnya” tetap menulis.

Aku pernah merasakannya.

Namun, hidup bukan garis lurus. Ada fase bertumbuh yang memang menuntut kita untuk berhenti sejenak. Dan tidak ada yang salah dengan itu. Menulis akan selalu menunggu—tidak pernah menuntut kita datang dalam kondisi sempurna.

Justru, tulisan yang lahir setelah jeda sering kali lebih jujur. Lebih dalam. Lebih manusiawi.


****


Menulis Pelan-Pelan, Tapi Bertahan

Kini aku menulis dengan cara yang berbeda. Tidak terburu-buru, tidak memaksa diri untuk selalu produktif. Aku memilih hadir, meski pelan. Satu artikel, satu cerita, satu refleksi.

Aku tidak lagi mengejar angka semata. Aku mengejar keberlanjutan.

Karena aku tahu, tulisan yang bertahan bukanlah yang paling sering muncul, tapi yang paling tulus. Dan Google—seperti pembaca manusia—perlahan mulai mengenali tulisan yang bernapas.

Menulis pelan bukan berarti kalah. Justru itu cara bertahan di dunia yang terlalu cepat.


****


Jika Kamu Juga Pernah Berhenti

Jika kamu membaca ini dan merasa relate—pernah menulis, lalu berhenti, lalu ragu untuk kembali—izinkan aku bilang satu hal:

Tidak ada kata terlambat.

Kamu tidak perlu menunggu ide besar. Tidak perlu menunggu waktu luang yang sempurna. Mulailah dari satu paragraf jujur. Dari satu pengalaman kecil. Dari satu perasaan yang belum sempat kamu tuliskan.

Menulis tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya meminta kehadiran.


****

Penutup

Menulis lagi setelah lama berhenti bukan tentang membuktikan apa pun. Bukan tentang mengejar validasi atau penghasilan semata. Ia tentang keberanian untuk kembali pada diri sendiri.

Dan ketika aku kembali menulis hari ini, aku tahu:
aku tidak sedang memulai dari awal.
Aku hanya pulang, membawa versi diriku yang lebih utuh.



****


Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisan ini. Semoga ada bagian kecil yang menemani atau menguatkanmu hari ini❤️
By LiaRezaVahlefi